Friday, January 16, 2009

Discover The 90 / 10 Principle

Discover the 90/10 Principle.
It will change your life (at least the way you react to situations).



What is this principle?
10% of life is made up of what happens to you. 90% of life is decided by how you react.

What does this mean?
We really have no control over 10% of what happens to us.
We cannot stop the car from breaking down. The plane will be late arriving, which throws our whole schedule off. A driver may cut us off in traffic.

We have no control over this 10%. The other 90% is different. You determine the other 90%.

How? ……….By your reaction.
You cannot control a red light. but you can control your reaction. Don't let people fool you; YOU can control how you react.

Let's use an example.

You are eating breakfast with your family. Your daughter knocks over a cup of coffee onto your business shirt. You have no control over what just happened.

What happens next will be determined by how you react.

You curse. You harshly scold your daughter for knocking the cup over. She breaks down in tears. After scolding her, you turn to your spouse and criticize her for placing the cup too close to the edge of the table. A short verbal battle follows. You storm upstairs and change your shirt. Back downstairs, you find your daughter has been too busy crying to finish breakfast and get ready for school. She misses the bus. Your spouse must leave immediately for work. You rush to the car and drive your daughter to school. Because you are late, you drive 40 miles an hour in a 30 mph speed limit. After a 15-minute delay and throwing $60 traffic fine away, you arrive at school. Your daughter runs into the building without saying goodbye. After arriving at the office 20 minutes late, you find you forgot your briefcase. Your day has started terrible. As it continues, it seems to get worse and worse. You look forward to coming home. When you arrive home, you find small wedge in your relationship with your spouse and daughter.

Why? …. Because of how you reacted in the morning.

Why did you have a bad day?

A) Did the coffee cause it?
B) Did your daughter cause it?
C) Did the policeman cause it?
D) Did you cause it?

The answer is “D". You had no control over what happened with the coffee. How you reacted in those 5 seconds is what caused your bad day.

Here is what could have and should have happened.

Coffee splashes over you. Your daughter is about to cry. You gently say, "Its ok honey, you just need to be more careful next time". Grabbing a towel you rush upstairs. After grabbing a new shirt and your briefcase, you come back down in time to look through the window and see your child getting on the bus. She turns and waves. You arrive 5 minutes early and cheerfully greet the staff. Your boss comments on how good the day you are having.

Notice the difference?

Two different scenarios. Both started the same. Both ended different.

Why?
Because of how you REACTED.

You really do not have any control over 10% of what happens. The other 90% was determined by your reaction.

Here are some ways to apply the 90/10 principle. If someone says something negative about you, don't be a sponge. Let the attack roll off like water on glass. You don't have to let the negative comment affect you!

React properly and it will not ruin your day. A wrong reaction could result in losing a friend, being fired, getting stressed out etc.

How do you react if someone cuts you off in traffic? Do you lose your temper? Pound on the steering wheel? A friend of mine had the steering wheel fall off) Do you curse? Does your blood pressure skyrocket? Do you try and bump them?

WHO CARES if you arrive ten seconds later at work? Why let the cars ruin your drive?

Remember the 90/10 principle, and do not worry about it.

You are told you lost your job.
Why lose sleep and get irritated? It will work out. Use your worrying energy and time into finding another job.

The plane is late; it is going to mangle your schedule for the day. Why take outpour frustration on the flight attendant? She has no control over what is going on.
Use your time to study, get to know the other passenger. Why get stressed out? It will just make things worse.

Now you know the 90-10 principle. Apply it and you will be amazed at the results. You will lose nothing if you try it. The 90-10 principle is incredible. Very few know and apply this principle.

The result?

Millions of people are suffering from undeserved stress, trials, problems and heartache. We all must understand and apply the 90/10 principle.

It CAN change your life!!!

Enjoy….

Author: Stephen Covey

Thursday, January 8, 2009

Hayya bil Jihad!!! : Save Palestine


Semakin hari Israel bertindak semakin kejam! Mereka menyerang, membunuh rakyat Palestine tanpa mengira usia...kanak-kanak yang masih suci jiwanya dan tidak mengerti apa-apa tentang hakikat dunia fana yang penuh kezaliman ini pula yang menjadi mangsa. Orang tua dan golongan wanita yang kudratnya tidak seberapa turut tidak terlepas! Tentera Israel secara terang-terangan mencabar dunia dengan 'membersihkan' Palestine tanpa belas-kasihan...seolah-olah mereka tahu tiada siapa yang berani bangkit menentang mereka, mahupun membela Palestine. Sekadar perarakan tunjuk perasaan, piket dan memorandum dari beberapa organisasi kecil tak 'bertaring'....apalah sangat yang hendak ditakutkan oleh Israel dan sekutu-sekutunya?!

Jadi, apa lagi peranan & usaha yang boleh kita lakukan untuk membantu saudara-saudara kita di Palestine sana? Kalau boleh biarlah sekurang-kurangnya 'suara' kita ini bukan saja sampai didengari oleh saudara-saudara di Palestine, malah mampu memberikan tekanan terhadap Israel dan sekutunya!! Saban hari kita mendengar keluhan, rintihan simpati terhadap rakyat Palestine...tak kurang juga berguni-guni sumpah-seranah, caci-maki dan kutukan laknat terhadap Israel, Zionis dan sekutunya.

Saya terfikir, apa impak yang Israel dan sekutunya dapat dengan sumpah-seranah kita? Kita berada jauh dari saudara-saudara kita di Palestine sana, apa lagi yang mampu kita buat selain menghamburkan rasa sakit hati dan marah kita melalui sumpah-seranah terhadap 'makhluk' yang memang tak berhati perut dan berperikemanusiaan itu??!!! Tiba-tiba seruan jihad bergema mengetuk-ngetuk minda saya untuk turut sama menggalas keperitan yang dirasai oleh saudara kita di Palestine.

Selain doa dan munajat kepada Ilahi memohon perlindungan ke atas rakyat Palestine, apa lagi yang boleh....yang mampu kita umat Islam yang jauh dari Palestine sana....lakukan???? Mengangkat senjata......terus-terang keberanian kita ini jauh ketinggalan berbanding anak-anak kecil di Palestine sana yang mudah saja mengangkat ketulan-ketulan batu menentang tentera Israel yang lengkap bersenjata moden dan canggih!!! Apa lagi jihad yang boleh kita....UMAT ISLAM SELURUH DUNIA....boleh lakukan??!!

Saya minta sangat-sangat saudara-saudara SEISLAM di luar sana untuk renungi kembali diri kita bersama-sama. Sudah terlalu lama kita dipisahkan oleh sempadan geografi dan budaya. Sedangkan ISLAM dulu berkembang di bawah satu panji yang sama dengan kalimah yang SATU "La ila ha illallah...Muhammadur rasulullah"....KALAU SUKAR SANGAT UNTUK BERSATU DI BAWAH NAMA ISLAM....SEKURANG-KURANGNYA BERSATULAH.....BERGABUNGLAH DI BAWAH NAMA KEMANUSIAAN SEJAGAT!!!

Help FREE Palestine by Boycott,Reject, Refuse,Impose Sanctions All Israel & American Products Worldwide - from your home, supermarkets, shopping malls etc and Don't use USD dollars for trade..but change to Dinar, Dirham, Euroes..They soon will collapse as their USD has no based except trade. If you can't boycott all, boycott half...It will still have an impact on them in a long run...

Lists of Israel & American products. You can live without them...Change products from other countries.

[Kata-kata saranan ini saya terbaca di dalam Youtube. Menariknya saranan ini bukanlah ditulis oleh seorang Muslim, sebaliknya seorang non-Muslim berbangsa Amerika / Eropah (saya tidak pasti) tapi sangat cintakan keimanan! Saya berasa amat malu pada diri sendiri tatkala membaca saranan ini kerana suatu waktu dulu saya pernah memandang remeh seruan untuk memboikot semua produk yang menyokong Israel & Zionisme. Ditegur secara halus oleh ALLAH buat kesekian kalinya melalui seorang non-muslim...apakah saya masih nak bersikap endah tak endah lagi seperti dulu?!!!! Ya ALLAH....malunya aku yang mengaku sebagai Muslim tapi tidak berani melaksanakan tanggungjawabku!!!]


Kita mungkin tak mampu untuk memboikot semua produk 'pro-Israel' ini disebabkan kita tiada / belum ada produk 'pengganti' yang setanding dengan semua produk tersebut.
Saya tahu kebanyakan produk tersebut berkualiti dan termasuk dalam senarai 'produk kegemaran' kita. Saya sendiri banyak menggunakan 'produk kegemaran' saya, seperti NOKIA, NESTLE, KOTEX, JOHNSON&JOHNSON dll. Namun kita masih boleh memboikot produk 'pro-Israel' ini secara berperingkat dan teratur, sedikit demi sedikit tapi konsisten dan mesti ada disiplin! Lama-kelamaan mesti boleh boikot semua produk dalam senarai tu!

Saya sekarang ni pun tinggal beberapa produk saja yang masih saya gunakan...terutamanya NOKIA!! Macam mana ya....nak gantikan dengan jenama apa yang setanding, yang sepadan? Saya sukar melepaskan NOKIA sebab ia 'mesra pengguna'. Dah lama saya tinjau-tinjau dan bertanya teman-teman...mungkin dalam masa terdekat ni saya akan putuskan hubungan saya dengan NOKIA. Penggantinya masih belum tahu....

TAPI....KALAU SETAKAT SEORANG, DUA SAHAJA YANG BEGITU BERIA-IA BERKEMPEN NAK MEMBOIKOT SEMUA PRODUK 'PRO-ISRAEL'.......saya fikir tak ke mana pun hasilnya. Israel, Zionis, Yahudi tak terasa terancam walau sedikit pun...mungkin saja mereka KETAWA MENGEJEK melihat betapa hebatnya KESATUAN UMAT ISLAM ini!!! Ahhhhh......malunya saya bila memikirkan ISLAM TERCINTA bakal berterusan diejek-ejek lagi oleh 'makhluk' tak sedar diri seperti Israel dan sekutunya!!

Akhir bicara....ayuh kita semua sama-sama menyahut seruan jihad yang amat kecil ini jika nak dibandingkan dengan jihad yang rakyat Palestine lalui sejak berzaman lagi!! Kalau kita benar-benar ikhlas nak tolong rakyat Palestine di sana, bersatulah seperti saranan non-muslim tersebut, kalau tak dapat boikot semuapun boikot separuh pun sudah boleh memberikan impak jangka panjang kepada gerak kerja Israel. Kalau usaha kita yang sekecil ini dapat menggugat dan menggegarkan Israel dan sekutunya, sekurang-kurangnya kita pun tidaklah terasa diri ini TIDAK BERBUAT APA-APA untuk ISLAM. Kalau jihad sekecil ini pun kita sukar laksanakan (berkorban memboikot kebanyakan 'produk kegemaran' kita)....TAK USAHLAH KITA BEGITU LANTANG NAK MELEMPARKAN SUMPAH-SERANAH & LAKNAT KEPADA ISRAEL & YAHUDI.....

Fikir-fikirkanlah......

PERINGATAN buat diri yang sering lupa & alpa.....


[Sami Yusuf feat. Outlandish : Palestinian, Try Not To Cry]

Thursday, January 1, 2009

Peringatan dari Allah!



3 hari sebelum Tahun Baru 2009

"Tak boleh dibiarkan lagi ni!!" aku hanya tersenyum sumbing mendengar rungutan Eisha teman sebilikku. Belum pernah sepanjang persahabatan kami, aku melihat dia semarah itu. Rupanya ada lagi insan yang lebih garang dari aku. "Saya tak kira, Cik Ya! Malam ni saya mesti buat perhitungan dengan dia? Mentang-mentang dia lebih tua dari kita, dia ingat dia boleh buat kita macam budak kecil ke?!!" aku terkebil-kebil, masih membisu. Aduhai sahabat, sabarlah....bertenanglah. Aku tahu dia marah. Aku juga marah. Tapi sikapku yang lebih banyak berfikir & memerhati membuatkan aku lebih banyak berdiam diri.
Biar betul Eisha ni? Eisha yang aku kenal, lemah-lembut, sopan, hormat orang lebih tua, tapi malam ni dia sangat berbeza.

"Akak, saya nak bincang sikit dengan akak ni?" Eisha memulakan bicara, masih lagi dalam nada suara yang terkawal. Aku perhatikan Kak Ha yang membisu sejak tadi. Dia buat-buat tidak endah. Aduh, sabarlah hati...

"Akak, saya kalau boleh nak cakap elok-elok dengan akak. Akak tolonglah dengar saya nak cakap ni!" aku dapat merasakan Eisha semakin hilang tahap kesabarannya. Dia berkalih posisi duduknya. Aku pula masih berdiam diri, mengambil sikap tunggu & lihat dulu. Kak Ha terus baring di atas tilamnya, menarik selimut tebalnya sehingga ke paras dada. Mendidih juga hati aku melihat perangai Kak Ha ni.

"Hah, apa dia?! Nak bincang hal apa lagi? Akak nak tidurlah ni!!" seperti biasa, jawapan yang sudah begitu lazim diberikan kepada aku & Eisha. Kak Ha mem
belakangi kami berdua. Aduh, kali kedua hatiku bagaikan ditusuk sembilu. Sakitnya. Eisha sudah mula mengurut-urut dada. Seperti yang telah kuduga, tak sampai seminit perbincangan antara mereka berdua bertukar menjadi pertelagahan. Dan paling teruk apabila aku pula ditarik masuk ke dalam kancah pertelagahan yang tak ubah macam budak kecil bergaduh! (Maksudnya, aku pun dah jadi macam budak kecil jugalah ni??...huhu...)

Lama jugalah kami bertiga bergaduh, bertengkar sampai tak sedar suara masing-masing dah sampai ke volum maksima. Paling malu bila dua orang teman serumah yang tidur di bilik bersebelahan masuk ke bilik kami untuk menenangkan kami. Tiba-tiba Kak Ha mengeluarkan kata-kata yang agak melampau pada pendengaranku. Apa lagi, terus sahaja aku bertempik "Kak Ha keluar ajelah dari rumah ni!! Kami dah tak tahan dengan Kak Ha, tahu tak?!!" saat aku menyedari keterlanjuranku semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi secara jujur aku tidak pula berasa menyesal, sebaliknya berasa lega dapat meluahkan kata-kata itu yang selama ini terbuku saja di dalam hati. Tiba-tiba suasana di dalam bilik kami menjadi khali seketika.


'Alang-alang menyeluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan! Alang-alang dah terlajak kata, biar sampai terus mesej & maksud yang nak disampaikan!' begitu aku & Eisha sepakat untuk meminta Kak Ha untuk keluar dari rumah sewaan kami ini. Bukanlah disebabkan pertelagahan kami pada malam itu, tapi sejak Kak Ha masuk ke rumah sewaan kami ini, sikapnya yang suka mengarah & 'memperbudakkan' kami membuatkan kami hilang sabar & rasa hormat terhadapnya.


2 hari sebelum Tahun Baru 2009

Semester baru bermula. Petang, aku ke rumah tuan rumah untuk membayar duit sewa bulan ini. Dalam perancanganku, memang aku ingin bertanya pakcik tuan rumah tentang status rumah yang kami duduki sekarang di samping berbincang serba-sedikit berkaitan jadual tuisyen anak bongsu beliau. Jika diikutkan kepada perjanjian awal ketika kami membayar deposit rumah, kami akan duduki rumah sewa itu selama 2 semester (bermula Jun 2008 sehingga Mei 2009). Namun, tiba-tiba pakcik tuan rumah meminta kami untuk mencari rumah sewa baru & keluar dari rumah sewa sekarang pada Februari akan datang kerana anak beliau yang sudah berkeluarga ingin duduk di rumah tersebut.

Walaupun berasa agak terkilan kerana pakcik tuan rumah melanggar perjanjian, tapi aku cuba memahami keadaan keluarga beliau yang kian bertambah besar dengan kehadiran ahli keluarga baru. Iyalah, takkan nak bersempit-sempit dalam satu rumah tu sampai 3 keluarga, kan? Jadinya aku mengalah saja dalam diam. Petang itu juga, aku ajak Eisha keluar untuk mencari iklan rumah sewa. Kebetulan Eisha baru saja selesai menulis notis untuk diberikan kepada Kak Ha (notis keluar dari rumah). Terpaksalah dia batalkan niat untuk bagi notis tu. Sebelum kami keluar, aku sempat menyampaikan berita sedih ini kepada ahli rumah yang lain. Sampai ke Maghrib jugalah kami merayau sekitar pondok bas di dalam kawasan kampus meninjau-ninjau iklan rumah sewa yang sesuai. Sudahnya, kami berjaya mendapatkan 2 iklan yang paling sesuai dengan keperluan kami saat itu. Alhamdulillah, kurang sikit tekanan perasaan yang mula menggangguku.

Seusai menunaikan fardhu Maghrib, aku & Eisha masing-masing menghabiskan kredit kami menghubungi empunya iklan rumah sewa. Aku dapat apartmen kosong di Blok 21, Eisha pula dapat di Blok 17. Terus kami bandingkan harga deposit, sewa & kelengkapan yang ada. Hmm...bila dibanding-bandingkan, dicongak-congak, ternyata apartmen di Blok 21 agak mahal & di luar kemampuan kami (tak ada peti sejuk & mesin basuh pula tu!). Jadi kami sepakat pilih Blok 17 walaupun sedar apartmen di situ agak sempit. Malam tu juga kami pergi ke Blok 17 untuk melihat bakal rumah sewa baru kami. Alhamdulillah, melangkah masuk ke ruang tamu itu, aku sudah terpikat. Bukan saja lengkap & selesa (walaupun agak sempit), yang penting sekali tuan rumah & ahli rumah itu (seorang kakak yang tua setahun dari aku yang terlebih dahulu menyewa di situ) sangat baik, peramah & bertimbang rasa. Tak mengapalah walaupun sewanya agak mahal berbanding rumah sewa sekarang, asalkan selesa.

Pulang ke rumah, aku ajak ahli rumah yang lain untuk berbincang duduk perkara sebenar status kami semua. Aku tahu mereka semua berasa terkejut & sedih kerana sudah serasi & selesa dengan rumah sewa sekarang. Namun apakan daya, mungkin ada hikmah di sebalik semua yang berlaku. Mujurlah, ahli rumah tak banyak kerenah & sudi memberikan kerjasama epada aku & Eisha yang terpaksa menguruskan banyak hal.

Sebelum tidur aku berseloroh dengan Eisha, "Baru kelmarin kita minta Kak Ha keluar. Sekarang kita pun kena keluar juga." Eisha hanya mengiakan saja kata-kataku.

"Padanlah dengan muka kita, Cik Ya. Siapa suruh pasang niat tak baik nak 'halau' orang??huhu..." Eisha tergelak kecil sedang aku hanya mampu tersengih macam kerang busuk.

Dan sebelum mata masing-masing kian layu diulit rasa mengantuk, aku sempat berbisik kepada Eisha, "Mungkin Allah nak memberikan peringatan kepada kita, Sha. Allah tak suka kita guna kekasaran & kekerasan. Allah nak tegur kita yang bersikap agak biadap terhadap orang yang lebih tua dari kita kelmarin. Mungkin juga, ini peringatan atau petunjuk dari Allah untuk menunaikan doa kita yang nak sangat menjauhkan diri daripada orang-orang seperti Kak Ha." kesepian melingkari kami berdua larut malam itu. Subhanallah, sungguh halus cara Allah dalam menegur hamba-Nya yang tersilap langkah seperti kami ini. Dalam kesepian malam yang kian larut itu, aku bersyukur & berdoa kepada Allah agar terus memberikan peringatan & teguran kepadaku dalam menempuhi liku-liku kehidupanku yang penuh ranjau ini. (^^)v

Moral cerita : Jangan mudah dipengaruhi nafsu amarah, kelak hanya mencetuskan api sengketa & dendam. Bersabarlah & berselawatlah untuk menenangkan hati-hati yang sedang menggelegak marah. Yakinlah pada janji-janji Allah, setiap sesuatu yang berlaku pasti ada hikmah di sebaliknya (cuma perlu cari saja...mana tahu terselit di mana-mana celah, kan...? hehe...(^^)v )

Novel Bersiri : Mahar Cinta Humaira (Bab 1) - sambungan




Bandaraya Raudhah, 10 tahun lalu


Luna masuk ke ruang tamu dengan menatang dulang membawa secawan minuman coklat panas. Perlahan-lahan wanita muda berusia dalam lingkungan 20-an itu meletakkan minuman tersebut di atas meja kecil yang tersedia di sisi sofa empuk yang terletak di tengah-tengah ruang tamu tersebut. Kemudian dia berdiri tegak, menanti dalam diam di sisi sofa. Beberapa minit kemudian kedengaran pintu utama dibuka dan ditutup semula. Luna tersenyum.

"Saya dah balik," dia bersuara lemah, keletihan jelas menguasai tubuhnya tika ini. Luna masih tersenyum. Tanpa berlengah dia terus menghenyakkan batang tubuhnya ke atas sofa empuk buatan Itali itu. Wajahnya tampak sedikit pucat dan lesu.

"Selamat pulang. Minuman sudah disediakan, masih hangat lagi,"

Luna masih tersenyum menyambut kepulangannya. Dia hanya mengangguk perlahan tanpa bersuara. Minuman coklat panas dihirup perlahan, terasa segar sedikit. Matanya terpejam rapat.

"Bagaimana perkembangan di sekolah hari ni?" Luna masih di sisi sofa empuk tersebut, menanti jawapan daripadanya.

"So far so good," dia menjawab malas.

"Datuk ada hubungi hari ni?" Luna mengangguk perlahan, mengiyakan.

"Sejak akhir-akhir ni, Cik Muda nampak sibuk dengan aktiviti di sekolah. Tuan bagi amaran, agar Cik Muda jangan terlalu rapat dengan teman-teman di sekolah. Tuan juga pesan, Cik Muda jangan sesekali lupa pada tugas utama Cik Muda," Luna mengingatkan.

"Aku tahu tugas aku. Tak perlu kau ingatkan pun aku takkan pernah lupa,"

"Baguslah, kami sangat berharap pada Cik Muda Anastasia sebagai pewaris tunggal kumpulan kita ini,"

"Luna! Berapa kali perlu aku ingatkan agar kau tak sentuh hal ini?!" tiba-tiba saja dia bertempik kuat memarahi wanita muda di hadapannya itu. Luna hanya tertunduk diam, senyuman masih lagi menghiasi raut wajahnya.

"Maafkan saya atas keterlanjuran saya, Cik Muda," suara Luna masih lunak seperti biasa. Dia hanya mengangguk perlahan. Langsung tidak memandang wanita muda itu.

"Ada apa-apa lagi yang hendak kau cakap, Luna?"

"Benjamin beritahu saya tadi, pada Rabu minggu depan ada ha
ri perjumpaan pihak guru dengan ibu bapa pelajar di sekolah Cik Muda. Cik Muda tak beritahu saya pun, adakah Cik Muda ada perancangan lain yang saya tak tahu?" tiba-tiba dia tergelak mendengar pertanyaan Luna.

"Apa yang kau fiirkan, Luna? Kau masih boleh tahu hal sekolah melalui ahli kumpulan kita yang lain, walaupun aku tak beritahu kau. Aku cuma malas nak memikirkan hal-hal remeh begini. Hmm...eloklah kau dah tahu, jadi jalankan tugas dan mainkan peranan kau ketika berdepan dengan orang luar. Aku pasti kau ingat dengan jelas tugas dan peranan kau, bukan begitu, Luna?"

"Sudah tentu saya ingat, Cik Muda,"


Wanita muda itu menunduk hormat kepadanya dia berlalu pergi dari ruang tamu banglo tiga tingkat itu. Anastasia kembali memejamkan matanya rapat-rapat. Terlalu banyak perkara yang perlu difikirkan dan diambil pertimbangan sebelum dia boleh meneruskan rancangannya dan melaksanakan tindakan seterusnya.

Pada usia remajanya, Anastasia langsung tidak berpeluang untuk menikmati keseronokan kehidupan remajanya seperti yang dilalui oleh remaja lain. Dia tampak terlalu matang berbanding usia sebenarnya yang masih mentah. Sejak kecil lagi kehidupannya sudah diaturkan, ditetapkan oleh datuknya. Hanya untuk tujuan pewaris tunggal kumpulan yang dipimpin oleh datuknya, dia hilang kebebasan untuk bermain, berkawan dan sebagainya. Walaupun dia benci dan letih dengan kehidupannya yang 'terkurung' di dalam sangkar emas datuk, dia tiada pilihan lain selain terus patuh kepada arahan demi arahan datuk.

"Ahhhhhhh!!!!!!"

Cawan minuman coklat yang masih bersisa tadi sudah tergolek. Isinya tertumpah mengotori permukaan permaidani tebal yang terhampar di tengah ruang tamu. Anastasia duduk kembali, terasa lapang seketika dadanya. Terasa puas dapat menjerit sekuat hatinya sebentar tadi, walaupun dia tahu kepuasan yang dirasai hanya seketika cuma. Dia termangu sekejap, ada sesuatu yang sedang mengganggu ruang fikirannya saat ini.

"Jatuh cintakah aku pada dia?"dia bergumam sendirian.


Spontan bibir mungilnya meleretkan sebuah senyuman penuh makna. Tidak semena-mena seraut wajah bersih lelaki yang sentiasa mampu menggugah hati hawanya itu muncul di kotak memori. Ah, tak mungikin dia jatuh cinta. Itu cuma perasaan yang sementara, yang selalu memerangkap dan menghanyutkan remaja sepertinya. Paling penting, tak mungkin dia diizinkan untuk merasai perasaan sebegitu, apatah lagi terhadap lelaki yang terlalu jauh berbeza prinsip hidupnya jika dibandingkan dengan apa yang menjadi kepercayaan keluarganya. Mengenangkan segala hakikat perbezaan itu, membuatkan senyumannya terus mati
. Wajah bersih lelaki itu kini digantikan pula dengan wajah bengis milik datuknya.


"Sudahlah, Anastasia! Jangan berani nak bermimpi indah!" dia menempelak dirinya sendiri. Raut wajahnya kembali serius dan tegang. Dia merengus beberapa kali sebelum bangkit meninggalkan ruang tamu yang sedia sunyi dan suram itu. Sesunyi ruang hatinya yang sekian lama terkunci rapat dari dunia di sekelilingnya.



Selamat Tahun Baru 2009!!



Selamat tinggal tahun 2008...selamat datang tahun 2009. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga tahun ini menjanjikan kebaikan & keuntungan buat kita semua di dunia & di akhirat. Namun, dalam kemeriahan & kegembiraan kita menyambut Tahun Baru & memasang azam baru (meskipun blm pernah ditunaikan)...cukuplah kita menyambutnya dengan penuh kesederhanaan & keinsafan. Jangan sampai kita terleka & alpa sehingga terjerumus dengan noda maksiat tanpa kita sedari. Tentu kita semua tidak mahu mendapat kemurkaan & laknat dari Allah Ta'ala gara-gara kecuaian kita sendiri, bukan? Biarlah kita mulakan tahun baru ini dengan penuh barakah, jangan pula awal-awal tahun lagi kita sudah cemari dengan palitan dosa. Sambil-sambil memasang azam & perancangan sempena kehadiran tahun baru ini, jangan lupa juga untuk muhasabah & mengkoreksi diri sepanjang tahun lalu agar boleh diperbaiki & diubah kepada yang lebih baik. (^^)v


Monday, December 29, 2008

Dear Friends...



"What type of friend are you?" Have you ever been asked this sort of question? If so, have you figured out the exact answer?

No? Hmm...maybe this quiz can help you a little bit. This quiz is to figure out how far a person can keep his/her friend's secret. So, just be honest with yourself or else you won't know the real answer...hope you enjoy this! (^^)v

[Situation : Your best friend gives you a present, wrapped nicely in colorful, pretty wrapper sheet with a ribbon tied on it. Question : "How do you open the present?"]


[A Type] You will untied the ribbon very nicely & unwrapped the wrapper very carefully & nicely. Then you will fold the wrapper & put it aside. You will try not to make a mess. You carefully open the box to see the present inside.

[B Type]

You will untied the ribbon nicely & put aside. At first, you will try to unwrapped the wrapper carefully but as you are having a little problem gradually in the process, you will lose your patience & will start tearing up the wrapper roughly. Plus, in the end when you finished the unwrapping process, you will crumple the wrapper & put it aside.

[C Type]

Well...from the beginning till the end you just tearing up the ribbon & the wrapper just like an excited little child. You tend to crumple the wrapper & throw it away & eagerly open the box in a little 'rude' (or rough) way.


[The Result]


:: A Type - You are a very dependable & trustworthy friend. You will keep your friends' secrets & will never let it out even if you are forced to. That shows that you really know how to consider & care about your friends' feeling & you don't want to hurt your friends no matter what. You are a type of person that will treasure the value of true friendship through your entire lifetime.

:: B Type - You still a dependable & good friend. You try your utmost to keep your friends' secret but in the end you impel to squeal them especially when you are forced to. This does not mean that you don't consider your friends' feeling. This proves that you are also similar to the rest which will preferred themselves when they are in an adverse situation.

:: C Type - Well, you are a person person who have less sympathy on your friends' feeling. You do not concern your friends' feeling & always dissappoint them at the end of the day. You are negligent in keeping your friends' secrets, therefore you tend to not be able to last long until finally you squeal them even though you are not forced to do so.

Congratutulation for those who are A Type! Hope you will maintain your good side of personality. Well done to those who are B Type. Don't be sad to face the fact that sometimes you will expose your friends' secrets although you don't mean to do so. Just try your best to improve your personality. For those who are C Type, don't be frustrated or mad. You should just try to turn over a new leaf & also try to be more considerable on your friends' feeling next time.

Last of all, hope you can enjoy this translation of a song lyrics (it is an OST of a Japanese anime, so the song is definitely in Japanese language), dedicated to you & everyone outside there who really treasure the value of true friendship! All the best!!! (^^)v


::Dea
r Friends::

"Everyday until the sun is set
We got ourselves dirty by mud

Those days that we wasted so foolishly

Are hard to throw away.


I'm a dreamer...but that's just how I am

It's alright if you don't want to be broken...

Like a jigsaw puzzle.


To you, when someone says 'YES'
It's the same as if they said 'NO'

We thought we would always be free.


When the wind blows through tomorrow

Even if the puzzle is broken

Nobody will blame us.

That day, we believe

That our dreams were not wrong

We just went across the rough seas.


I always knew about
The pain you carried in your heart...

Even if you leave this ship

And end up in a different world


We'll be able to smile in the end.

Even now...we continue dreaming
Continue riding on those embraced dreams.


We'll fight the rough seas today

Even with our pain...
So that our promises don't become lies.


And then one day...

To you who left our ship

And are now in a different world

I will send that completed puzzle."
~"Dear Friends by Triplane"~

Salam Ma'al Hijrah



"Dan sesiapa yang berhijrah pada jalan Allah (untuk membela & menegakkan Islam), nescaya dia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang banyak & rezeki yang makmur & sesiapa yang keluar dari rumahnya dengan tujuan berhijrah kepada Allah & Rasul-Nya, kemudian dia mati (dalam perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi Allah dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."

{Surah An-Nisaa' : 100}




Align Center

Friday, December 5, 2008

Kota Sarang Semut (dedikasi buat anak-anak kecil di Palestine)


Ribuan askar gagah tersusun lurus
Ribuan askar perkasa itu

Sangat kecil dan kerdil pada mataku

Kecil. Kerdil.
Buat aku tersenyum sinis
Kenapa perlu melawan lagi
Mengalah
saja kerana kau takkan pernah menang
Peperangan yang nyata berat sebelah.


Beratus kali...
Kotamu dipijak diinjak sang penjajah

Beratus kali...

Tanahmu yang suci dinodai dilukai tanpa secubit belas

Beratus kali...
Rakyatmu dicalari dijajai tanpa secebis maruah.


Tapi ribuan askar gagah yang kerdil itu
Terus mara penuh membara

Dengan tempik sorak bergema menggegar alam

Maju! Terus maju!
Pertahankan kota ini! Pertahankan!

Rakyat kami!
Tanah suci ini!

Kerana kita pasti 'kan menang!

Ribuan askar gagah tersusun lurus
Ribuan askar perkasa itu

Sangat kecil dan kerdil pada mataku

Kecil. Kerdil.
Buat aku menangis keharuan

Ampu
hnya benteng imanmu
Hingga musuh sangat menggerunimu
Biar beratus askar kecil itu tumpas

Beribu lagi bangkit dengan teriakan lebih menggugat.

Kau hanya askar kecil

Ibarat sang semut dengan kotanya

Kau memang askar kecil yang perkasa

Ibarat sang semut dengan kotanya.


Dan aku...takkan pernah setanding

Dengan askar kecil yang perkasa itu.

Monday, December 1, 2008

Yang Mana Satu Adalah Diri Anda???

RAHSIA PERSONALITI DIRI

Personaliti yang wujud dalam diri kita adalah dalam bentuk yang dinamik, ia terus berkembang dan berubah. Mengenalpasti personaliti diri adalah merupakan satu aset penting untuk kita mengenali dan mendalami diri sendiri. Dengan memahami personaliti yang terbentuk dalam diri kita maka lebih mudah untuk kita menyesuaikan diri kita dengan persekitaran. Terdapat beberapa jenis personaliti yang telah dirumuskan berdasarkan hasil kajian dalam bidang psikologi.

a) Personaliti Periang


1. Berasa selesa apabila berada di dalam keramaian dan seronok bertemu dengan orang lain.

2. Lebih mudah berhubung dengan dunia luar berbanding dunia dalam diri mereka sendiri.

3. Lebih suka berbincang dengan orang lain dalam
membuat sesuatu keputusan berbanding
membuat keputusan sendiri.

4. Lebih banyak bercakap dari mendengar (talkative)
5. Gemar dengan aktiviti keramaian seperti majlis makan, sukan, pesta dll.

6. "
Happy go lucky" dan gemarkan muzik harmoni & ranc
ak.


b) Personaliti Pendiam


1. Lebih suka menyendiri.

2. Sanggup melakukan apa saja untuk menjayakan sesuatu yang mereka sukai.
3. Mudah berasa diketepikan dalam keramaian.

4. Lebih suka memikir & mencar
i penyelesaian untuk masalah yang dihadapai secara bersendirian.
5. Lebih suka menjadi pemerhati & berfikir lama sebelum melibatkan diri dengan sesuatu
atau orang lain.
6. Seorang pendengar yang baik, kurang ge
mar dipuji & tidak suka mencampuri hal orang lain.

c) Personaliti Perasa


1. Mahu jawapan yang pasti & tepat.

2. Suka kerja yang berperaturan (sistematik) & kerja yang mempunyai pulangan yang
banyak.
3. Suka mengumpul maklumat yang banyak & mencukupi sebelum bertindak.
4. Mementingkan fakta & bukan teori serta tiada masalah dengan perkara remeh-temeh.
5. Lebih suka melakukan sesuatu dari berfikir untuk melakukan sesuatu.

6. Kurang mempunyai firasat.

d) Personaliti Peramal


1. Gemar melakukan banyak perkara dalam satu masa.

2. Selalu mempunyai jawapan yang sesuai untuk setiap persoalan & bijak mengenalpasti peluang
baru.

3. Tidak suka melakukan kerja yang remeh-temeh.

4. Gemar mempelajari perkara baru tapi kurang menggunakan ilmu tersebut.

5. Sering memberikan jawapan berbentuk umum.

6. Gemar kerja yang mencabar, tetapi kurang gemar melakukan kerja yang sama sepanjang

masa.

7. Mempunyai banyak persoalan yang ditimbulkan ketika di dalam perbincangan.
8. Suka menguji kebolehan orang lain.


e) Personaliti Pemikir


1. Mudah mengingat angka berbanding mengingat wajah & nama orang.

2. Sentiasa tenang walaupun dalam keadaan yang menyebabkan orang lain panik.
3. Sentiasa menganggap dirinya adalah benar setiap masa.

4. Kadang-kadang kelihatan seperti seorang yang keras hati & mudah mengkritik.

5. Cekap dalam merancang sebarang kerja & mengurus kerja peribadi.

6. Suka melihat sesuatu dengan lebih mendalam sebelum membuat keputusan.


f) Personaliti Sensitif


1. Sering membayangkan diri mereka berada dalam situasi yang dialami oleh orang lain.

2. Lebih mudah bersimpati dengan perasaan, kehendak & kesukaan orang lain.

3. Lebih mengutamakan apa yang dirasai oleh diri sendiri & orang lain berbanding
mempertimbangkan apa yang betul ketika membuat sesuatu keputusan.

4. Suka menolong orang lain meskipun tahu mereka dipergunakan.

5. Tidak gemar menyampaikan berita buruk kepada orang lain.

6. Sanggup melakukan apa saja untuk tidak melukakan perasaan orang lain / menimbulkan konflik
dengan orang lain.


Ini hanyalah hasil kajian, tak tepat 100%. Jika nak saya untuk memilih antara kategori a-f ini, tiada satu kategori pun yang benar-benar mewakili, mencerminkan personaliti saya 100 %...rasa-rasanya keenam-enam kategori tersebut ada terselit dua, tiga ciri-ciri yang mencerminkan personaliti saya. Pendek kata, saya ni bukan saja seorang yang periang, malah juga seorang yang pendiam, perasa, peramal, pemikir & kadangkala juga boleh jadi seorang yang sensitif...(^^)v

Jadi, bagaimana pula dengan diri anda?

Disclaimer : Artikel ini disiarkan sebagai wadah perkongsian ilmu. Sebahagian besar artikel ini adalah dari sumber "forwarded emails". Namun, semua artikel adalah hak milik penulis asal. Justeru, setinggi-tinggi penghargaan buat pemilik sebenar artikel-artikel tersebut, walau siapa pun diri anda dan di mana jua anda berada. (^^)v

Friday, November 7, 2008

Novel Bersiri : Mahar Cinta Humaira (Bab 1)

Kota Aqsa, 20 tahun lalu

Bumi Palestine basah lagi lewat pagi itu. Rintik-rintik kasar menjadi lebat menghujani muka bumi yang sekian lama gersang dan tandus. Sang mentari seakan-akan ditelan awan mendung hitam yang mengisi dada langit. Kota Aqsa sepi sekali lagi. Hiruk-pikuk suara manusia dan bunyi dentuman peluru dan bom yang bertali-arus hilang ditelan keheningan pagi yang begitu dingin mencengkam.

Di celah-celah runtuhan bangunan batu lumpur itu, berlari-lari dua orang kanak-kanak saling berpegangan tangan. Sesekali mereka menoleh ke belakang. Serpihan bebatuan dan besi berceracak yang menghalangi laluan habis diredahi. Mereka terus berlari tanpa menghiraukan luka dan calar-balar yang mula terasa pedih. Hujan lebat menyukarkan lagi pergerakan mereka berdua. Tiba-tiba kanak-kanak yang paling kecil itu terjatuh, tersungkur mencium tanah becak. Wajahnya comot berlumuran lumpur.

"Cepat bangun! Jangan berlengah lagi!" perintah yang seorang lagi.

"Tapi kak, adik tak larat lagi....." adu si kecil tercungap-cungap kepenatan.

"Mereka dah dekat. Kau sembunyi dulu di sini diam-diam," ujar si kakak, "Tunggu sampai akak datang!" si kecil yang sudah keletihan itu akur pada perintah kakaknya, yang sudah menghilangkan diri di sebalik runtuhan bangunan. Dia hany
a menanti penuh debar. Ketakutan jelas terbayang pada wajah pucatnya. Entah sudah berapa lama dia berkeadaan sebegitu dia sendiri tidak tahu. Dingin pagi benar-benar mencengkam, hampir-hampir saja dia hilang kesedaran. Semerta kedengaran bunyi derapan tapak kaki menghampiri tempat persembunyiannya. Degupan jantung kian deras. Seketul batu sebesar bola besbol dicapai, digenggam erat-erat.

"Adik...."

"Arghh....!!" sekujur tubuhnya mengggigil bagai disimbah setimba ais yang sejuk amat. Mujur kakaknya bertindak pantas menekup mulutnya.

"Dik...cepat keluar dari sini!" si kecil itu masih terpinga-pinga.

"Cepat! Kau pergi cari abang. Kau tahu di mana abang berada, kan?" si kecil mengangguk, masih terk
ebil-kebil.

"Lari, dik. Keluar dari kota ni! Lari ke Desa Bhustan. Mereka akan bawa kau bersama ke Bandaraya Raudhah. Kau akan selamat di sana. Cepat pergi!"

"Mestikah kita ke kota penuh maksiat tu?" si kecil gusar.

"Sekurang-kurangnya tempat itu masih lagi di bawah naungan pemerintahan orang Islam. Sekurang-kurangnya tempat itu menawarkan perlindungan dan keselamatan kepada kita."

Benar, Bandaraya Raudhah...Permata Asia Tenggara yang kian menyinar. Sayang sekali, realiti tak seindah nama yang d
iberikan. Arus kemodenan dan kemajuan yang dicedok dari Barat yang pernah menjajah negara itu membuatkan penduduknya mulai melupakan akar agama dan budaya ketimuran yang murni, lantas meniru budaya Barat yang terang-terang sarat dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Namun, di sebalik timbunan maksiat yang meruntuhkan moral dan akhlak mereka, masih ada benih-benih suci yang sedang tumbuh subur, bersedia memulihkan kembali nilai peribadi dan harga diri mereka. Itulah benih-benih Islam, perlahan-lahan namun utuh dan kukuh, mulai menyinar menerangi kembali Bandaraya Raudhah, Permata Asia Tenggara itu.

"Tak usah banyak fikir. Cepat pergi dari sini sebelum terlambat!" suara tegas kakaknya menyentak perhatian si kecil.

"Kakak, macam mana pula?" soalnya kembali, masih dihurung kebingungan.

"Jangan fikir tentang akak. Cepatlah pergi, dik!"

"Tapi..."

"Tolonglah...terlalu banyak orang yang dah terkorban. Kita yang masih hidup ini, jangan pula nak sia-siakan peluang yang ada. Tolonglah dik...sama ada akak atau kau, kita mesti berusaha untuk terus hidup! Bangsa Palestine tak boleh lenyap begitu saja! Tolonglah, dik!"

"Kakak...."

"Dik...tolonglah pergi sekarang. Walau apa sekalipun, kau tetap adik kesayangan akak," dua beradik itu saling berpelukan seketika. Pantas si kecil berpaling, mula membuka langkah seribu meninggalkan kakaknya di tengah-tengah Kota Aqsa.

Kesaki
tan dan kedingingan yang mencengkam batang tubuhnya seakan-akan hilang dibius semangat dan harapan yang menggunung. Kerapkali dia tersadung. Kerapkali dia tersungkur menyembah bumi. Namun tubuhnya masih larat untuk bangkit semula. Si kecil yang baru menjangkau usia lima tahun itu terus berlari dan berlari. Tidak berhenti walau sesaat pun. Tidak berpaling ke belakang walau sekilas pun. Dia nekad, dia mesti keluar dari kota ini. Mesti!


'Cari abang. Kau tau di mana abang berada, kan? Lari...keluar dari kota ni. Lari ke Desa Bhustan. Mereka akan bawa kau bersama ke Bandaraya Raudhah! Kau akan selamat di sana. Cepat pergi!' kata-kata kakaknya masih terngiang-ngiang di cuping pendengarannya. Ya, dia mesti cari abangnya di desa tersebut. Abang dan mereka yang lain telah merancang untuk melarikan diri, mencari perlindungan di Bandaraya Raudhah. Mereka kata, tempat itu sangat aman, jauh dari peperangan. Mereka kata, masyarakat di bandaraya tersebut sangat santun dan baik hati walaupun berbilang kaum dan berbeza kepercayaan. Kalau abangnya sudah berkata demikian, maka dia sanggup percaya! Dia sanggup mencuba nasib di tempat asing itu, demi meneruskan hidup!

Kota Aqsa tiba-tiba dihingari suatu suara jeritan nyaring. Si kecil itu berhenti berlari. Dia berpaling ke belakang. Suatu perasaaan yang seni sedang merayapi tangkai hatinya kala ini. Perit dan ngilu. Bangunan-bangunan tinggi di sekeliling dipandang kosong. Bagai mengerti dengan jeritan nyaring sebentar tadi, dia mula menangis teresak-esak. Tubuhnya terjelepuk ke tanah. Tenaganya hilang. Semangatnya padam.

Umi! Walid! Kakak! Hatinya menjerit-jerit memanggil insan-insan tersayang. Kenapa nasib kita begitu malang? Kenapa? Kenapa mesti kita yang menjadi korban? Jiwanya memberontak. Tangisan mula reda. Hanya esakan halus kedengaran. Lama dia berteleku di atas tanah becak bertakung air lumpur. Hujan masih lagi lebat mencurah-curah, seperti turut sama meratapi nasib si kecil itu.

Bersambung...

Thursday, November 6, 2008

Novel Bersiri : Mahar Cinta Humaira (Prolog)


Sekelip mata dia terasa badannya melayang di udara. Sekelip mata dia terasa tubuhnya terhentak keras di atas turapan tar yang membahang. Sekelip mata segalanya kelam dan sunyi, bagai roda masa tiba-tiba berhenti berputar. Dia terlentang tidak bergerak. Sinar mentari yang tegak di atas kepala seakan-akan menyengat penglihatannya. Kabur.

"Humaira!" cuping telinganya masih dapat menangkap suara yang kian sayup tenggelam dari pendengaran. Ada cecair pekat mengalir hangat dari rongga hidung dan telingany
a. Bersusah payah dia cuba mengatur nafas yang tersekat-sekat dalam rengkungan nafasnya.

"Humaira!" pandangannya beepinar dan kian kabur. Derianya masih mampu merasai seseorang sedang menyentuh, mengusap tangan dan kepalanya. Rasa bisa menjalari seluruh sendi tubuhnya. Kesakitan yang amat luarbiasa terasa merampas kudratnya.

"Ya Tuhan.....apa yang sedang terjadi ada diriku?" dia bingung. Pandangannya gelap seketika. Cerah kembali.

Kata orang, pada saat manusia di ambang kematian, pada saat itulah mereka dapat melihat kembali seluruh perjalanan hidupnya. Ternyata ia benar. Dia juga tak terkecuali. Satu-persatu perjalanan hidupnya dipaparkan di layar mata, perjalanan yang gembira mahu pun yang sedih, yang indah mahu pun yang penuh hitam. Satu-persatu, tanoa dapat dia halang, menerjah ke ruangan memorinya.

"Humaira..." suara itu masih lagi memanggil namanya, sayu. Humaira...ya, nama itu memang miliknya. Nama yang digunakan dalam kehidupannya yang biasa, yang normal. Namun dia punya satu lagi nama yang sunyi, yang kelam, yang rahsia, kerana dia juga punya satu lagi kehidupan yang sunyi, yang kelam, yang rahsia. Tiada siapa pun tahu tentang hal itu. Tiada siapa pun, kecuali seorang cuma. Seseorang itu jugalah yang telah memberikan sinar baru dalam hidupnya.


Dalam payah dia tersenyum tipis. Ya, dia ibarat sebiji catur Othelloyang memiliki dua wajah. Wajah putih dan wajah hitam. Bagi dirinya, memiliki dua kehidupan berbeza tidak menjadi masalah. Begitu juga memiliki dua nama, dua identiti berbeza bukanlah hal yang rumit. Namun, memiliki dua cinta, itu adalah sesuatu yang mustahil bagi dirinya. Antara dua cinta, dia terpaksa membuat pertaruhan yang besar, yang pastinya melibatkan soal hidup matinya.

Dua cinta tak
mungkin dapat wujud dalam satu ruang yang sama. Salah satunya mesti berundur, mesti mengalah. Dia amat yakin dengan prinsip itu. Dia amat yakin, apabila wujud sebah cinta yang lebih kuat dan lebih utuh dalam ruang hatinya, maka lama-kelamaan ia akan membunuh cinta yang satu lagi. Ia terpaksa mengorbankan cinta yang satu lagi, kerana cinta itu sendiri tak lebih dari sebuah pengorbanan semata-mata. Lambat-laun hal itu pasti akan terjadi, dan yang pastinya dia sendiri terpaksa membayar pengorbanan itu dengan harga yang amat mahal.

Bersambung...

Monday, November 3, 2008

Doa Buat Sahabat...


Ya Tuhan...
Kurniakan kefahaman, kejelasan & keyakinan,

Kepintaran & kekuatan akal fikiran,

Serta ketenangan jiwa kepada sahabatku...


Ya Tuhan...

Limpahkan rahmat & cinta-Mu kepada sahabatku,
Jangan Kau sempitkan dia dengan belenggu masalah,
Jangan Kau hukum dia kerana kekurangan & kelemahan...
yang ada pada dirinya...

Permudahkanlah segala urusan sahabatku...


Ya Tuhan...

Tempatkan sahabatku di kalangan kekasih-Mu,
Tinggikan darjat sahabatku dalam ketaqwaan & keimanan,
Redhailah sahabatku dunia & akhirat...
kerana sesungguhnya aku amat mencintai & mengasihi sahabatku,

Bahkan aku redha terhadap dirinya...

Demi Tuhan sekelian alam...
Sahabatku telah memberiku ketenangan,

Kegembiaraan & kebahagiaan,

Serta mendorongku
Untuk menggapai CINTA-Mu.


Friday, October 31, 2008

Bila Minda Buntu, Jiwa Lesu.....


Assalamu'alaikum.....

Sejak akhir-akhir ini saya dibelenggu dengan kesibukan berkaitan akademik & masalah seharian sehingga terlepa seketika dengan blog sendiri. Saya punya tabiat suka memencilkan diri tatkala ingin ingin berkarya & juga menelaah nota akademik, pastinya kerana ingin menumpukan perhatian & mencari ilham. Namun kadangkala tabiat saya ini menjadikan teman-teman di sekeliling saya berasa tidak senang hati. Entahlah, meskipun saya telah cuba menerangkan kepada teman-teman, akhirnya hanya segelintir sahaja yang sudi memahami & memberi ruang kepada saya (kebanyakan teman yang lain pasti akan menempelak saya dengan mengatakan saya anti-sosial, kera sumbang dan sebagainya yang sedikit sebanyak mencalarkan perasaan saya).

Saya akui saya memang seorang yang amat mementingkan privasi & suka bersendirian, namun saya bukan anti-sosial, malahan jika saya mahu, saya mampu berkomunikasi & berinteraksi dengan baik (apatah lagi saya memang 'pantang' jumpa mikrofon...(^^)v). CINTA saya selain Tuhan, keluarga, ilmu....adalah berkarya mencurah ilham & menjadi fasilitator di dalam program-program motivasi di sekolah-sekolah. Ketika saya resah memikirkan masalah yang sedang saya hadapi, bersua muka dengan adik-adik di dalam program motivasi mampu membuatkan saya berasa tenang & segar. Bukanlah tujuan utama saya melibatkan diri dengan konsultan-konsultan yang mengendalikan program motivasi ini demi wang apatah lagi untuk menunjuk pandai di hadapan adik-adik tersebut. Tetapi sebaliknya demi menambah ilmu & kemahiran, serta mempelajari liku-liku & ranjau kehidupan yang sarat dengan pengarajaran & iktibar.

Sebut tentang sekolah....pasti saya akan terkenang sekolah kesayangan saya, guru-guru kesayangan saya juga memori-memori indah & manis yang pernah saya cipta bers
ama-sama teman-teman seperjuangan suatu ketika dulu. Kadangkala saat minda saya buntu & jiwa saya terasa lesu pasti saya akan mencari ruang & peluang untuk menjengah kembali lubuk ilmu yang terlalu banyak menabur bakti kepada saya. Mujur sekolah lama saya masih berada di dalam daerah yang sama, lebih kurang 10km jaraknya dari rumah saya.

Bahagian depan dewan sekolah (SMKDPB)....kebetulan ketika saya
melawat sekolah lama saya, warga SMKDPB sedang meraikan Hari Guru.
p/s : Memang saya langkah kanan, sampai-sampai saja Cikgu Yusmi terus
ajak saya ke dewan makan untuk menjamu selera....
huhu....rindunya masakan makcik tukang masak...

Rupa terkini pagar sekolah kesayangan...bukan saja guru-guru masih
mengingati nama saya, malahan juga pakcik 'guard' pun masih kenal saya
waaaaaahhhhhhhh.....seronoknya!!!

Emm...inilah diri saya, jika ada ruang & peluang pasti saya akan melawat tempat yang penuh kenangan indah ini. Lebih-lebih lagi ketika minda saya terasa buntu & tepu, jiwa saya letih lesu sehingga saya hilang tumpuan & matlamat utama saya mulai kabur. Setiap kali ke sekolah lama, Ummi Midah (guru Bahasa Arab juga guru kelas saya) pasti akan bertanya : "Bahasa Arab kamu makin bagus?", "Bagaimana kehidupan di KL? Ummi harap kamu masih mampu bertahan..." Guru-guru yang lain pula pastinya tidak ada soalan paling menarik selain "Julia dah ada teman lelaki ke? Bila nak kahwin?" Terasa kelakar pula melihat keletah guru-guru kesayangan. Perbezaan yang saya dapat kesani apabila guru-guru kesayangan saya tidak lagi membahasakan diri mereka 'cikgu', sebaliknya 'kakak' & kadangkala mereka menggunakan ganti nama 'aku' & 'kau' ketika berbual dengan saya. Ternyata mereka tidak lagi melihat saya sebagai anak didik mereka yang
naif & mentah suatu ketika dulu, sebaliknya mereka melayani saya seperti teman / adik yang begitu rapat dengan mereka. Hmmm...satu perkembangan yang positif & menggembirakan, pastinya!

Saat bersua kembali dengan guru-guru kesayangan, hati saya terasa ringan & lapang. Bukan saja mereka saling memberikan nasihat & pedoman hidup kepada saya, malah berkongsi rasa hati & jerit-perih pengalaman berharga mereka. Ada juga yang mengadu kepada saya tentang masalah-masalah melibatkan adik-adik junior saya (pastinya lebih banyak berlegar tentang masalah sosial, h
ubungan percintaan - masalah remaja...). Pernah juga seorang guru saya meminta saya agar memberikan ucapan berbentuk nasihat & dorongan semangat kepada adik-adik junior. Wah, terasa beruntung pula (walau bagaimanapun rasa malu lebih menguasai diri saya ketika itu) diberikan penghormatan untuk berucap di hadapan adik-adik junior. Mujur juga saya agak aktif & agak popular ketika zaman persekolahan dulu, jadi ramai jugalah adik-adik yang masih mengenali & mengingati nama saya...haha...malunya!

Apapun, saya pasti akan kembali bersemangat & bertenaga untuk meneruskan perjalanan hidup saya selepas ini. Paling penting, saya tidak perlu berasa gusar lagi kerana andai jiwa & minda saya keletihan lagi, saya tahu suatu tempat yang saya perlu pergi untuk memulihkan diri saya semula - SMKDPB tercinta - (^^)v!!!!

Bersama tiga orang guru yang paling rapat dengan saya.
Dari kiri : Ummi Midah (guru B. Arab), Teacher Syima (guru B. Inggeris),
Cikgu Yusmi (guru B.Melayu) & saya.

Monday, October 27, 2008

Cahaya Matahari


Matahari di waktu pagi

Perlahan-lahan menembusi dinding gunung

Menerangi alam yang ceria dengan cahayanya

Yang penuh warna-warni

Harapan dan impian yang indah.


Tapi matahari di dalam hati ini masih

Tak mampu menembusi dinding yang menghalangi

Cahayanya yang sarat dengan warna-warni

Harapan dan impian dari menerangi

Ruang hati yang suram dan sunyi.


Entah bila

Dinding utuh itu dapat diruntuh

Sedang masa berputar meninggalkan hati yang bergetar?

Adakah nanti

Denyut jantung yang kian lemah berdetak

Akan menghancurkan kepingan impian yang retak?

Atau patutkah aku

Melepaskan segala yang pernah diimpi

Lalu menerima hakikat kejam yang sepi?


Cahaya matahari yang terang di dunia juga

Di dalam hati ini hanya sebentar sahaja hadirnya

Tiba saatnya ia juga akan pergi

Diganti kepekatan malam gelap yang sunyi.

DOA QUNUT NAZILAH